Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Juli 2012

Kami pernah berjanji...

7/31/2012 W. Wardani
 ..............................................................................................
Saksikanlah…

Bahwa kami akan selalu membina, kapan pun, dan dimana pun.

Bahwa kami tidak akan membiarkan lingkaran yang telah terbentuk menjadi terbengkalai dan terlupakan.

Bahwa kami akan selalu memberikan ilmu pada lingkaran kami, bukan sekedar sebagai penggugur kewajiban.

Bahwa kami tidak akan membiarkan saudara kami berjuang sendiri.

Bahwa kami akan senantiasa mengingatkan satu sama lain untuk tetap teguh di jalan dakwah.

Bahwa tidak aka nada perpecahan, kedengkian, dan kebencian di antara kami, 
yang berawal dari mulut dan tingkah laku kami sendiri.

SAATNYA BAGI KAMI UNTUK MENINGGALKAN MEDAN KATA-KATA, 
MENUJU MEDAN AMAL YANG NYATA."
------------------------------------------------------------------------------------
 
Allahu Akbar...! saya tersentak ketika menemukan postingan yang berjudul "sebuah azzam" pas lagi bongkar-bongkar blognya ayang saya orangeumar. Ingatan saya seketika itu meluncur menuju beberapa tahun silam sekitar pertengahan tahun 2010. Hari itu bertepatan di hari ahad, saat saya lepas jaga dari praktek di sebuah RSUD di Boyolali. Saya bersama-sama dengan saudara seperjuangan berkumpul di suatu tempat yang hijau dan teduh di pojok kampus hijau itu. Kami secara sadar dan dengan mengucap syahadat melanjutkannya dengan sebuah ikrar yang kami ucapkan bersama, sebuah azzam untuk senantiasa berada dalam gerbong-gerbong dakwah...
Allahu Ya Robb, Engkau Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu telah menyaksikan dan mendengarkan janji kami, azzam kami untuk terus melangkah di jalanan ini...
Allahu Ya Robb, ampuni kami jika kelalaian kami jauh lebih banyak, ampuni kami jika kami sempat melupakan perjanjian ini kepadaMu...
Bimbing kami Ya Robb, tunjukilah kepada jalanMu...
 
-LetsBackToThe RightTrack-

Sabtu, 26 Mei 2012

Menjadi berharga dengan belajar

5/26/2012 W. Wardani

belajar...
disetiap jengkal buminya adalah tempat belajar!
sejengkal rerumputan di dekat comberan rumah kita yang masih senantiasaa bergoyang mengajarkan bagaimana ia sabar terinjak terhempas oleh kaki-kaki manusia yang melangkah dengan penuh kesombongan

belajar...
disetiap detik waktu yang kita lalui adalah waktu belajar!
menghargai waktu adalah cara terbaik untuk kita bersyukur atas nikmat usia yang masih ada

belajar...
disetiap peristiwa yang kita jumpai adalah pembelajaran!
bukan hanya yang membahagiakan dan gemerlapan
dalam ujian pun terslelip sebuah pelajaran

belajar...
disetiap orang yang kita jumpai adalah pelajaran!
bahkan seekor kucing pincang yang lewat didepan mata kita tersisip pelajaran tentang syukur atas langkah-langkah kita yang masih gagah

belajar...
tak ada kata terlambat untuk belajar!
tak ada kata usai untuk belajar
tak ada kata esok untuk belajar
karena sesungguhnya hidup adalah proses belajar yang dimulai sejak kita dilahirkan dan akan berakhir saat tiba kematian

bukankah sudah jelas firman-Nya...?
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat”
(QS.Al Mujadilah : 11)

bahkan diperjelas dalam sebuah hadits...?
“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. At-Tirmidzi)

maka,
ia yang berilmu adalah ia yang bersemangat untuk belajar di sepanjang hidupnya
ia yang menjadi berharga di antara sesamanya dengan derajat yang lebih adalah ia yang berilmu
ia yang jalannya ke syurga terbentang di hadapan pandangan adalah ia yang terus belajar menggali ilmu sepanjang waktu...

*(inspirasi pagi belajar bersama kelas khusus AKPI)

Jumat, 16 Desember 2011

tidak cepat namun tepat...

12/16/2011 W. Wardani


Pertolongan Allah itu tidak cepat
tapi ketahuilah bahwa pertolonganNya juga tidak pernah datang terlambat
Begitu juga Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan
namun Allah memberikan apa yang kita butuhkan

(inspired by : Mbak ida sayang @ asramaPelitaIlmu)

Rabu, 23 November 2011

semua butuh usaha....

11/23/2011 W. Wardani


semua butuh usaha
iman tak semerta-merta terbang setinggi himalaya dalam dada
yaumiyah yg senantiasa terjaga
itulah sayapnya menjulang ke angkasa

semua butuh usaha
tak semerta-merta hati menjadi suci tanpa noda
dzikir oleh lisan dalam diam 
taubatan di penghujung malam melepas cengkraman dosa-dosa seharian
itulah pengurai noda pencuci hati yang hampir mati

semua butuh usaha
tak serta merta orang berbaik hati
jika engkau menyulut api maka mereka akan menyiramkan bensin
jika engkau menabur benih padi kesejahteraan maka mereka akan membantumu
menyiangi rumput yg menghalangi

hei! 
ini bukan alam mimpi
bukan pula negeri dongeng ini dunia fana!
apa yang kau tanam maka itu yang kau tuai
jangan berharap menuai tanpa mau menanam

semua butuh usaha
bukan tetangga juga saudara, bukan orang tua, bukan kerabat ataupun sahabat, bukan mereka yang akan mengusahakannya untukmu melainkan dirimu sendiri untukmu sendiri!



Minggu, 20 November 2011

Tanya siapa...?

11/20/2011 W. Wardani

Saat sedang terjun payung dalam laga kefuturan
Siapa yang akan membawa jiwamu mendaki menapaki tangga puncak keimanan
Saat sedang malas dan lamban memenuhi panggilan penghambaan
Siapa yang akan menggerakkan kakimu untuk bersegera dalam kebaikan
Saat sedang kecewa atas harapan dan impian yang tak kunjung datang
Siapa yang akan membuka kelapangan hatimu pada keoptimisan

Siapa lagi kalau bukan saya sendiri...?
Bukankah Allah tiadak akan merubah nasib suatu kaum
Melainkan ia merubahnya sendiri


Siapa lagi kalau bukan saya sendiri...?
Untuk iman yang terus membara dalam dada
Untuk penghambaan yang senantiasa terjaga
Untuk harapan yang akan terus ada meraih cita

Siapa lagi kalau bukan saya sendiri...?
Ketika diri merasa sendiri di tepian desa yang sunyi
Siapa yang akan meramaikan hari memanggil mereka yang pernah singgah di hati
Ketika langkah mulai lelah dan tak berdaya menentukan arah
Siapa yang akan merehatkan sejenak agar kaki dapat diayunkan kembali
Ketika merasa perangai tak memesona sebagaimana manusia beragama
Siapa yang akan menuntun jiwa dan raga kepada perbaikan


Wahai makhluk berakal
Wahai manusia yang sebaik-baik penciptaan
Masihkah engkau kebingungan?
Masihkah juga hati bertanya siapa?
Siapa lagi kalau bukan saya sendiri?

Rabu, 05 Oktober 2011

“Sang Murobbiyah” Utz. Yoyoh Yusroh (1962 – 2011)

10/05/2011 W. Wardani
Kesaksian perjuangan panjang “Sang Murobbiyah” Ustadzah Yoyoh Yusroh (1962 – 2011)
..................
Lalu tibalah perwakilan dari pihak keluarga mengucapkan terima kasih dan permintaan maaf atas nama almarhumah dan keluarga.

Kesaksian Ustadz Hilmi pada Takziyah (alm) Ustz. Yoyoh Yusroh


Innalillahi wa inna ilaihi roji’un tsumma innalillahi wa inna ilaihi roji’un tsumma innalillahi wa inna ilaihi roji’un.


Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Selain mewakili keluarga besar Almarhumah, saya disini mewakili keluarga besar Partai Keadilan Sejahtera yang pada hari ini merasa kehilangan kader terbaiknya, kader yang merintis dari awal pertumbuhan jamaah dakwah ini dan gerakan dakwah ini. Dari awal tahun 1980 beliau sudah bergabung dengan aktivitas dakwah ini, bergabung dengan penuh semangat wala wal intima’, semangat loyalitas dan komitmen. Bergabung dalam gerakan dakwah ini dengan semangat thoat wa tadhhiyyah. Seluruh hidupnya diwakafkan, diserahkan pada dakwah ini. Seluruh perjalanan hidupnya telah bergabung dengan dakwah ini, secara totalitas diberikan untuk dakwah ini. Dalam hal ini kita merasa kehilangan.
Sesungguhnya yang merasa kehilangan bukan hanya jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bangsa Indonesia, tetapi saya sendiri sejak pagi menerima takziyah dari segenap penjuru dunia, dari negara-negara ASEAN, dari negara-negara Timur Tengah menyampaikan takziyah ini. Karena sekali lagi yang kehilangan bukan hanya Partai Keadilan Sejahtera, bukan hanya bumi pertiwi, tapi ikut kehilangan juga Masjidil Aqsha dan Bitul Maqdis-nya, seluruh mujahidin dan mujahidah di Palestina sudah menyampaikan takziyahnya dan merasa kehilangan. Bukan hanya bumi Indonesia yang kehilangan Almarhumah bahkan bumi dimana terletak Masjidil Aqsho-pun merasa kehilangan, bumi para mujahidin dan mujahidah yang sampai saat ini sedang dikepung oleh tentara zionisme Israel  turut juga kehilangan. Karena Almarhumah selain mewakili jamaah dakwah Partai Keadilan Sejahtera sebagai anggota DPR, juga mewakili bangsa Indonesia hadir di tengah-tengah pejuang mujahidin di Gaza, sehingga mereka pun ikut merasa kehilangan.
Bahkan, baru saja kita juga menerima takziyah dari kesatuan-kesatuan militer dari kepolisian Indonesia yang sedang bertugas melaksanakan perdamaian di Darfur, Sudan. Semua ini adalah bentuk respon atas kehilangan seorang daiyah, seorang mujahidah dakwah yang telah memperlihatkan dedikasinya untuk apa yang diyakini, apa yang dicita-citakan dan apa yang ia perjuangkan.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan oleh Allah SWT,
Sekilas bagaimana dakwah ini bertemu dengan beliau, pada akhir tahun -sekitar pertengahan 1980- beliau sebagai mahasiswi di IAIN Ciputat, waktu itu masih mahasiswi di sana, ternyata beliau bukan hanya pendengar ceramah yang baik tapi langsung menginginkan adanya komitmen dengan nilai-nilai yang diceramahkan. Dan sejak saat itulah beliau tidak pernah lepas dengan dakwah ini dengan segala pengorbanannya. Bahkan ketika rezim Orde Brau memenjarakan saya selama dua tahun beliau terus melakukan langkah-langkah dakwah dan ketika saya keluar ari penjara beliau segera menemui saya lagi dan bergabung lagi, tanpa malu dengan eks-tahanan politik. Terus Bergabung.
Bahkan ada titik-titik sejarah yang mugkin pada generasi sekarang sulit mengaplikasikannya. Ketika masuk saatnya beliau harus menikah beliau datang kepada saya dan mengatakan, “ Ustadz, saya diminta orang tua untuk segera menikah”, Saya katakan, “ InsyaAllah saya do’akan semoga dimudahkan”, “Tapi calonnya mnta dicarikan ustadz, saya ingin sesama aktivis dakwah.” “Ada pilihan?”, “ Tidak ada pilihan. Pilihan jamaah dan pilihan Allah itulah yang akan menjadi pilihan saya.”
Dan segeralah saya mencari-cari siapa yang sudah jadi, sudah tentu pada saat itu masih mahasiswa dan mahasiswi yang iklimnya sulit untuk siap nikah saat itu. Dalam kesulitan mencari itu akhirnya kita menggunakan logika qum ya, hudzaifah!. Lalu yang menyambut panggilan qum ya, Hudzaifah sampai sekarang yaitu akhunal fadhil Budi Dharmawan. Yang ketika saya minta segera mengasih tahu orang tua beliau di Bandung, bahkan belum tahu nama lengkapnya. Ketika ditanya oleh orang tuanya , “Budi siapa nam calon istrimu?” “Yoyoh.”, “Yoyoh apa?”, “Belum tahu.” Tapi orang tua Budi Dharmawan ini seorang yang sholeh dan shalihah sehingga segera menemui saya dan merestuinya dan kemudian sayalah yang melamar beliau kepada K.H. Abdussomad almarhum, yang kemudian beberapa hari kemudian menyelenggarakan pernikahannya. Seluruhnya,bahkan proses ini sepertinya almarhumah dan akh udi Dharmawan belum pernah bertemu sebelumnya. Inilah sikap generasi pertama yang memegang komitmen dengan dakwah ini.
Begitu juga dengan perjuangan-perjuangan, baik sebelum era reformasi dengan segala ketekunannya ekspansi dakwah hampir ke seluruh penjuru Indonesia dan sesudah era reformasi dan kita bersama komponen bangsa lain membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ini menuju yang lebih baik. Almarhumah dengan sangat tekun menjadi legislator dua periode di DPR. Tiga periode di DPR yang mana periode ke tiganya ini belum selesai. Jadi selama tiga periode ini secara terus menerus beliau berjuang dan mendedikasikannya.
Bahkan ketika di komisi I, luar biasa perkembangan kiprahnya merambah seluruh dunia yang memerlukan kontribusi Indonesia baik dalam Pembebasan Plestina, Perdamaian Sudan atau di Lebanon atau di Istanbul hampir tugas-tugas Internasional beliau laksanakan.
Ini sudah barang tentu menjadi suri tauladan bagi kita semua, dan beliau tidak pernah selama menjalankan tugas ini mengeluh biaya dan menanyakan dari mana biayanya? Siapa yang megurusnya? Tidak!. Seluruhnya dikelola dan dimenej dengan kemampuan semangat ruhul badzu wa tadlhiyah. Keteladanan inilah yang harus kita ikuti.
Sudah barang tentu beliau tadi jam 03.30 WIB dipanggil oleh Allah SWT untuk insya Allah menikmati pahala dari kerja keras, dari pengorbanan, dari jerih payah dan perjuangan beliau. Mudah-mudahan insya Allah kita diberi kesempatan oleh AllahSWT untuk bergabung dengan beliau di Jannatil Firdausi a’la. Amin.



Tadi saya bacakan ayat minal mukminina rijalun shodaqu ma’ahadullaha alaihi, fa minhum man qadla nahbahu wa minhum man yantazhir dan Almarhumah termasuk yang man qadla nahbahu, telah menunaikan tugasnya dan menghadap kepada Allah SWT, dan kita termasuk waminhum man yantazhir. Mudah-mudahan kita diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk tetap meneruskan semangat seperti yang dicontohkan oleh Almarhumah yaitu semangat wa maa baddalu tabdilla, tidak pernah mau meu mengubah keyakinan, keimanan, dan aqidahnya tidak pernah mau mengubah idealisme sikapnya, tidak mau merubah minhaj langkah-langkah perjuangannya dan tidak mau mengubah ghoyah (tujuan) perjuangannya, wa maa baddalu tabdilla, itulah yang diwariskan oleh almarhumah kepada kita. Mudah-mudahan Allah SWT pertama-tama menempatkan Almarhumah fi maq’adi shidqin ‘inda malikin muqtadir (54:55) dan mudah-mudahan juga memberikan kita kekuatan dan semangat wa maa baddalu tabdilla, istiqomah terus lurus dalam memperjuangkan nilai-nilai yang diajarkan Allah dan RasulNya.

Hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah SWT,
Dari kisah perjalanan beliau ini membuktikan bahwa kesibukan perjuangan tidak membuat lalai mengurus rumah tangga, begitu juga kesibukan mengurus rumah tangga tidak membuat lalai melaksanakan tugas-tuhas perjuangan. Ini contoh yang mempertemukan tugas-tugas rumah tangga dengan tugas-tugas perjuangan disatupadukan dalam jiwa hidup perjuangan dan pengorbanan yang penuh telah diberikan oleh Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh. 

Insya Allah, aqulu qouli hadza, astaghfirullaha li wa lakum.
Assalamu’alaykum wr. Wb.
.............................................................................
Maka, ingin dikenang seperti apakah kita di hari-hari setelah nyawa terpisah dari raga kelak...?
Maka, seberapa banyak umat manusia yang kita harapkan akan merasa sangat kehilangan kita ketika kita harus meninggalkan dunia...?
Maka, sejauh apa kah kaki kita langkahkan untuk dakwah dan kebaikan hingga detik ini...?
Maka, ketika memang sudah puluhan kaki kita langkahkan di jalan dakawah, sudahkah langkah-langkah itu membawa barokah...?
Kum ya, Qowyyulazmi...!!!

Sabtu, 01 Oktober 2011

Memesan Anak, Yuk!

10/01/2011 W. Wardani


Pernahkah terbersit di benak kita bagaimana kita dengan segala kekurangn dan kelebihannya diciptakan?. Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Muhammad Al Fatih dilahirkan menjadi seorang penakluk konstantinopel yang merubah gereja Aya Sofya menjadi sebuah masjid megah simbol kejayaan Islam kala itu. Pernahkah kita memikirkan bagaimana mereka manusia jaman sekarang  yang sering kita temui di jalanan?, yang menghabiskan waktunya dengan menjadi preman (free man), tidak tau dan tidak mau tahu aturan serta apapun yang terjadi disekitarnya, dandanan rambut yang menantang langit (red:punk), celana yang (sengaja) dilubangin di sana-sini, rantai bergelantungan di hidung, lidah hingga kelopak matany. 

Dua miniatur manusia yang memag Allah takdirkan untuk melalui jalanan hidup yang berbeda sesuai  usahanya masing-masing, sesuai lingkungannya masing-masing namun mereka semua sama-sama terlahir dari orang tua. Mereka semua sama-sama ciptaan Allah dan Allah telah menuliskan takdir dan ketentuannya jauh-jauh hari sebelum mereka dilahirkan.

Ketika kita melihat sosok pejuang Islam seperti Muhammad Al Fatih penakluk konstantinopel atau Ustadzah Yoyoh Yusroh pembebas jilbab di sekolah negeri masa itu mungkin terbesit di fikiran kita tentang bagaimana kedua orang tuanya mendidik beliau-beliau, bagaimana kedua orang tuanya mempersiapkan generasi robbani ini semenjak masih ada dalam rahim ibunda hingga dewasa, bagaimana kedua orang tuanya memberikan rizki yang halal utuk pertumbuhan putra-putrinya yang menjadi bintang Islam di masanya. Sudah tidak diragukan lagi mereka terlahir dari rahim ummahat yang dekat dengan Rabbnya pun juga ayah yang taat pada Allah. Dari pemahaman tersebut maka kitapun berusaha jatuh dan bangun untuk senantiasa menggenggam iman di hati, memperbaiki akhlak dan mensholehkan diri untuk menjadi calon ummahat sebagaimana ibunda para syuhada dan juga menjadi calon abi sebagaimana ayah para mujahid.

Satu hal yang mungkin kita lupakan atau mungkin tidak terlintas di fikiran kita selama ini tentang do’a. Do’a adalah sebuah usaha kita untuk memesan kepada Allah ingin seperti apa anak-anak yang kita lahirkan kelak. Saat ini memang benar anak itu belum ada di rahim kita dan di tengah-tengah kita, namun apa salahnya mendo’a, karena ia akan tetap dikabulkan melalui tiga pilihan yaitu akan langsung dikabulkan, akan diganti dengan yang lebih baik untuk kita dan akan ditahan di dunia untuk diberikan kepada kita di akhirat nanti.

Untuk seorang anak-anak seperti apa yang kita inginkan nantinya, mari kita pesan dari sekarag. Sebutkan satu persatu dihadapan Allah Yang Maha Mendengar untuk anak-anak kita nantinya yang sholeh lagi mensholehkan, yang mampu menjawab permasalahan umat di masanya kelak, yang akan menjadi penguat barisan dakwah Islam, yang akan menjadi hafidz-hafidzah, yang akan maju dibarisan pertama penyerang musuh-musuh Islam, yang akan menjadi cendekia muslim di zamannya nanti dan apapun pesanan kita, semoga Allah mengabulkan. Amin

Dengan do’a yang kita panjatkan pada Allah, dengang macam pesanan yang kita mintakan pada yang menciptakannya maka dengan husnudzon Allah pun akan mempersiapkan seorang abi dan umi yang dari darah daging dan rahimnya layak melahirkan anak-anak sesuai pesanan kita. Ini jualah yang akan menjadikan kita istiqomah dalam kebaikan, istiqomah dalam menjaga izzah dan iffah, istiqomah menjaga hati dari virus-virus berbahaya dan keistiqomahan di jalan dakwah.


Mulai sekarang sudah saatnya kita memperpanjang duduk kita setelah sholat, menyelipkan do’a untuk anak-anak kita kelak, menyampaikan secara detail pesanan kita akan buah hati kita nanti. Semoga Allah Yang Maha Mendengar mengabulkan do’a-do’a kita dengan pemberian terbaik dariNya. Amin
Maka, siapakah calon ibu yang tidak menginginkan dari rahimnya terlahir putri seteguh Yoyoh Yusroh dalam dakwah Islam?
Maka, siapakah calon ayah yang tidakmenginginkan generasi penerus perjuangan sepemberani Muhammad Al Fatih dalam menaklukkan konstantinopel?
#terinspirasi dari tausyah dalam lingkaran pekan ini

Sabtu, 06 Agustus 2011

This is LIFE!

8/06/2011 W. Wardani

Tak selamanya azzam kita kencang mengikat segala kemalasan, menaklukkan segala  bentuk ketakutan, memusnahkan segala belenggu dan membuka tabir menuju cahaya terang benderang.

Ada kalanya azzam ini tak lagi melejitkan semua indra, memanjangkan langkah, memuncakkan energi tak kenal kata lelah dan menyerah, menajamkan penglihatan, pendengaran dan penciuman, melantangkan suara berapi-api, dan menghentakkan langit dan bumi.

Tanpa terduga, tiba-tiba kekuatan itu lenyap, azzam itu hilang entah tak dapat lagi ditelusuri kemana arah membawanya pergi.
Jangankan melangkah, merangkak itu sudah lebih dari cukup. Jangankan berteriak, berbisik itu sudah luar biasa. Apalagi menghentakkan seisi bumi, melangkah saja tak kuasa.

Saya belajar… 
Inilah sejatinya hidup. Ada pilihan, ada konsekuensi, ada pembelajaran, ada perbaikan, ada komitmen. Satu hal yang pasti adalah setiap sesuatu yang Allah kehendaki pasti terjadi pada makhluk-Nya. Adalah kita belajar bagaimana memaknai hidup dengan sesama manusia untuk Yang Maha Hidup dan untuk Kehidupan yang Kekal abadi di kemudian hari...
Saya belajar...
Terkadang memang kita harus dilempar sekeras-kerasnya kelantai dasar dari puncak gedung tertinggi, untuk bisa memantul ke atas lebih tinggi dan semakin membumbung tinggi. Seburuk apapun keadaanmu tidak pernah Allah menghendaki keburukan untuk hambanya karena semua keputusannya adalah terbaik dan selalu terbaik...

Senin, 27 Juni 2011

Hingga kamu lulus & lebih kuat...

6/27/2011 W. Wardani


Jenuh, sesak, sedih, mutung, nangis-nangis ampe pusing kepala dkk. Entah kenapa selama hampir 8 bulan terakhir ini setiap ada sesuatu hal atau permasalahan atau apalah, kudapati diriku menjadi berbeda dg waktu2 sebelumnya. Sepanjang waktu kujumpai aku adalah orang yang sangat kekanakan, penuh dg negative thinking, minderan, pendek cara fikirnya & ngambekan wal hasil semua keputusan & tindakan berbuah penyesalan. Semuanya itu berasa sampai mentog. Gak ada okenya sama sekali. Malu campur sedih campur galau dan gundah gulana datang secara rutin. Sungguh sangat menyiksa, menyesakkan, jenuh & selalu uring-uringan...

Hmm...dalam muhasabah panjang, ada sebuah pertanyaan bertubi-tubi. “Apa yang salah denganku?”, “Apa yang terjadi dengan diriku, pikiranku n etc.?”. Hingga pada sebuah pertanyaan, “Apa yg sedang Allah ajarkan padaku?”. Yap, dari pertanyaan terakhir kutemukan sebuah hubungan sebab-akibat yang dahsyat antara do‘a yg kupanjatkan saat itu dengan semua ini. Subhanallah…


*******
Malam ini, dengan sebuah tujuan untuk entry post kubuka  qowyyulazmi dan dengan iseng setelah berhasil nge-post aku buka sebuah tulisan yang berjudul "Selamat datang 21-tahunku."

Hmmm…Jger...Lap..lap…Duar…berasa seperti tersambar halilintar (lebay.com). Ternyata ada untaian do’a untuk sebuah peningkatan kualitas hidup yang kupanjatkan pada Allah SWT. Sebuah resolusi diri yang berjudul “Menjadi Dewasalah”. Sebuah do’a dan harapan untuk bisa menjadi dewasa dalam menjalani kehidupan. Jujur, ternyata semua yang terjadi selama ini adalah sebuah jalan untuk menjadikanku lebih dewasa.

Sejenak teringat penggalan tausyah yang berbunyi “Ketika engkau memohon kekuatan maka Allah akan memberikan cobaan untuk engkau hadapi.  Ketika engkau memohon kebijaksanaan maka Allah akan memberikan rintangan untuk cari jalan keluarnya”. Yap, kalo untukku bunyinya, “Ketika engkau memohon kedewasaan maka Allah akan memberikan segala keinginan dan permasalahan agar engkau belajar mengendalikan diri”, ya mungkin itu lebih pas. (selfmotivating.com) ^_^

Subhanallah, ternyata Allah sedang mengajarkanku tentang “Kedewasaan”, Allah sedang menunjukkan jalan untuk “Menjadi Dewasa” dan Allah sedang memberikan jalan ijabah untuk do’aku menjadi “Lebih Dewasa”.

Lagi-lagi teringat sebuah pesan singkat dari seorang guru “Allah mengujimu pada titik kelemahanmu, tak akan selesai hingga engkau menjadi lebih kuat & lulus dr ujian itu”. Ya, sampai pada titik terlemah kita. Ketika kita sedang belajar berjalan maka Allah akan memberikan kita sandungan yang menjatuhkan, di situlah Allah menguji, mampukah kita bangkit, mampukah kita mencoba lagi untuk berjalan. Jangan khawatir!, tak akan lagi kita jatuh setelah kita mahir berjalan apalagi berlari, karena kita memang telah lulus. Jika terkadang kita harus jatuh maka disitu ada yang harus kita introspeksi, mungkin kita memakai sandal yang salah atau tidak focus melihat jalan saat melangkah.

Terimakasih, Allah. Terimakasih untuk sebuah kuliah intensive pendewasaan di 21 tahun yang indah
...Thank you, Allah…

 *******
Untukmu yang selama ini menjadi korban sikap kekanak-kanakanku, untukmu yang selama ini tiada lelah mengingatkanku untuk belajar “menguasai diri”, untukmu yang tiada jemu mengingatkanku “be positive thinking”, semoga hanya keikhlasan yang meliputimu atas sikap-sikapku yang menyakitkan dan mungkin membosankan. Terima kasih atas kesabaranmu yang terus mengalir bersama kenakalnaku. Aku mencintaimu Bapak, Ibu, Mas Ari, Mas Wisnu, dua kakak iparku, Orange Umar, adik-adik Tsurayya, dan semua yang ada disekitarku. Ana uhibbukum fillah. Segala do’a kebaikan tercurah untukmu semuaaaa… Thank You Allah…

“Allah mengujimu pada titik kelemahanmu. Tak akan selesai hingga engkau menjadi lebih kuat & lulus dari ujian itu.”
-(sang guru@halaqoh'09)-

Sabtu, 21 Mei 2011

Urusanmu Hanya pada Menyeru...

5/21/2011 W. Wardani



Entah.  Sudah dini hari tapi rasa kantuk belum juga kutemui. Zzzzzz, bingung juga mau ngapain yaaa…?. Tiba-tiba teringat dengan sebuah Blog yang bernama “Banyu Biru” yang sudah sejak September 2010 lahir dan belum lagi kuhampiri hingga hari ini. Bergegas ku buka BeOne (baca: Byon) sebuah benda elektronik masa kini yang telah dan akan selalu setia menemaniku dan membantuku dalam menyelesaikan tugas-tugas, menyuarakan rasa dan sesekali menghibur diri. Ku ketik alamat dan sampailah aku di halamannya.

                Bingung sekaligus malu. Bingung dengan settingan dan design blognya, dalam hati saya berkata “kok aneh ya…”, pengen ganti tapi males utak-atik. Malu dengan sajian tulisan yang masuihhh suanggaaat muiniim sekali. “Hmm, STOP to be underestimate Win!, lanjutkan saja!!!”, tiba-tiba dalam hati berbisik begitu karena baru saja, sebelum buka blog ini saya membaca notes ukhti-ukhti yang mengingatkan tentang “Sampaikan satu ayat meskipun tanpa suara, karena engkau masih bisa menuliskan kata-demi kata, karena engkau masih bisa bergerak memberikan qudwah (teladan) untuk mereka”. 

                Tulis aja Win, ngalir ajalah, apa adanya, jujur dalam kata, apapun hasilnya, bumbui huruf demi huruf itu dengan niat yang tulus dan lurus Lillah, Billah, Fillah karena urusanmu hanya pada menyeru bukan mengubah atau membuka hati dan mata insane yang engkau seru. Yap, hanya menyeru (QS.3:104). Biarkan Allah yang melanjutkan prosesnya. OK…???

Semoga kesadaran akan pentingnya menulis dalam dakwah terus nyeplak (baca: membekas) dalam diri saya dan kita semua, mulai hari ini, esok dan seterusnya. Usaha terus, Coba Terus, Buktikan kalau kita © dakwah. Semoga menjadi ladang amal yang membuahkan pahala yang tak pernah terputus alirannya hingga kita berpindah di alam yang berbeda (baca: akhirat).
                Amin…

Berawal dari menjadikan blog ini sebagai sebuah usaha dan sarana mengingatkan diri sendiri, semoga bisa memberikan manfaat untuk yang membaca.

…AYO SEMANGAT TEBAR KEBAIKAN, NULIS…NULIS…NULIS…
Windi BISA, QOWYYULAZMI!
Bismillah...

Need an Invite?

Want to attend the wedding event? Be our guest, give us a message.

Nama Email * Pesan *