Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Mei 2012

Sungguh Melelahkan...

5/25/2012 W. Wardani

Lelah...
Jika hidup hanya mengandalkan otak tanpa hati
Lelah...
Jika harta yang diberikan hanya untuk memenuhi keinginan pribadi yang tak bertepi
Lelah...
Jika otak yang dianugerahkan hanya untuk memikirkan diri sendiri
Lelah...
Jika lisan yang dianugerahkan hanya untuk mengeluhkan keadaan
Lelah...
Jika dua kaki yang diberikan hanya untuk melangkah ke jalan gemerlapan
Lelah...
Jika hati yang Allah anugerahkan hanya untuk tunduk pada dunia semata
Lelah...
Jika dalam hidup yang hanya sekali ini berbatas dinding tinggi dengan Illahi
Sungguh melelahkan...!

Kamis, 19 April 2012

Meng-G.I.L.A sejenak!

4/19/2012 W. Wardani



Saya pernah bermimpi untuk membangunkan jiwa-jiwa muda yang tertidur pulas di tanah tempat saya dilahirkan, dengan menjadi setitik lubang kecil dinding yang gelap gulita sehingga seberkas sinar menembus memberikan udara juga cahaya.

Sebelum sejauh itu saya bermimpi, saya pernah menuliskan keinginan kuat saya untuk mengantarkan kedua orang tua saya yang terdekat dan keluarga besar saya kepada indahnya hidup dalam naungan cintaNya. Hingga harapan saya untuk bersama-sama bertemu dengan orang-orang yang saya cintai di syurga bukan hanya sekedar mimpi.
Dengan takdir saya sebagai anak perempuan satu-satunya dari tiga bersudara sekaligus terbontot, maka saya akan mepet-mepet terus dengan bapak dan ibu serta keluarga besar saya.

Terlebih lagi dengan profesi saya sebagai tenaga kesehatan tentunya itu sudah sedikit memberikan jalan untuk lebih bisa bergandengan dengan sesama ketika memang saya benar-benar bisa berjalan dengan tegar di pelayanan.

Namun waktu memang selalu saja mengajakku untuk lebih banyak berfikir setelah menyaksikan apa-apa yang nampak disepanjang jalan bahkan terkadang merubah arah fikiran saya hingga saya mejadi gila ga karuan.

Setelah saya menyaksikan wanita-wanita luar biasa berbicara di sebuah symposium dengan rentetan huruf penyerta namanya dan riwayat pendidikannya serta kiprahnya yang menggila ternyata membuat saya tergila-gila juga. Kalau sudah gila ya sudah tidak ingat aoa-apa, bahkan saya pun tidak sadar dengan mimpi-mimpi saya di kemudian harinya.

Saya pun bermimpi untuk menapakkan kaki di kota penjajah negeri ini untuk melanjutkan studi. Saya juga bermimpi bahwa untuk meraihnya maka saya harus berani mendekati ibukota dengan segenap keegoisan tanpa ingat nasib bapak-ibu kelak di kampung halaman. Saya pun berambisi untuk fokus memanfaatkan ijazah mengajar agar bisa menjelajah dunia. Hmmm.....gilaaaa......

Hingga suatu hari saya harus bertikai dengan bapak dan ibu untuk diizinkan sampai di sini, di kota kecil perbatasan ibu kota negeri ini, sampai dengan detik ini. Tanpa saya peduli bagaimana air mata ibu saya kering tertumpahkan disetiap hari melawan dentuman kerinduan dan deraan sepi tak bertepi. Tanpa saya berempati betapa sakitnya bapak saya saat serangan prostat datang tanpa permisi pada pukul 03.00 dini hari namun harus berjuang bertahan sembari mengemudikan mobil menuju rumah sakit di pusat kota untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Ya...inilah saya yang sedang gila... yang namanya gila ya gila... Gak ingat apa-apa... Ga sadar harus bagaimana... Gila itu tidak tahu diri dan sekitarnya... Itulah saya beberapa tahun belakangan... Egois dan idealis tanpa pandang bulu alis. Dengan kata “pokoknya” maka semuanya akan menjadi ada dan bisa... Gila tingkat Internasional dah pokoknya...hehee...

Lalu...menyesal telah menggila...? Alhamdulillah tidak!. Setelah saya tersadarkan, saya bersyukur telah menjadi gila, karena dengannya saya bisa merasakan nikmatnya waras. Hehee...

Dengan gilanya saya hingga nekat melesat sampai di kota ini juga merupakan bagian takdir Allah, saya yakin itu!. Ini adalah jalan dari Allah untuk mempertemukan saya dengan seseorang yang ternyata semakin menguatkan saya untuk kembali waras dan mengingat semua hal yang pernah saya mimpikan jaman dulu. Sebuah mimpi untuk “bali ndeso makaryo neguhake cagaking agomo” (kembali ke daerah menebarkan Islam untuk semesta melalui profesi yang digeluti), begitulah dulu saya pernah bermimpi dengan segenap kejujuran.

Di sini, di tempat ini saya dipertemukan dengan sosok bidan yang luar biasa, namanya Bunda Jubaedah, cerita sekilas tentangnya sudah pernah saya uraikan sebelumnya di sini.  Alhamdulillah, dengan melihat beliau saya semakin waras dan sadar dengan sepenuhnya bahwa saya harus pulang.

Sudah saatnya saya tunduk dan memenuhi apa yang orang tua saya inginkan. Kalau tidak sekarang lantas mau kapan lagi...? mau menunda lagi lalu menyesal seumur hidup...? gak kan Win...?!, ooh tentu tidak!. Saat saya pulang liburan pekan lalu ibu dan bapak berbisik bahwa keduanya hanya menginginkan saya untuk berkenan menemaninya di masa-masa tuanya, hanya itu saja tidak lebih!. Sudah cukup, pemberontakan harus dihentikan.  Jangan maunya menang sendiri. Inilah saatnya saya berada di depan persimpangan antara idealita dan realita, antara cita-cinta dan orang tua...

Dan saya sudah mulai terbayang bahagianya mengemudikan mobil mengantar bapak dan ibu ke Islamic Center menghadiri pengajian di setiap Ahad Pagi...
Betapa bahagianya menyaksikan si kecil Qowy, Azam dan Tsabita berpacu belajar “a..ba..ta..tsa” bersama kakek dan neneknya selepas maghrib...
Indah pastinya berangkat manasik hingga berfoto dihadapan ka’bah berempat tepat di tahun yang telah dituliskan dalam lembar-lembar impian...
Hmm....bibir saya hingga tak bisa berhenti tersenyum membayangkan semuanya....

Ayo kembali buka lembaran-lembaran impian yang penuh dengan kejujuran sembari membaktikan diri untuk ibu bapak, dengan begitu yakinlah bahwa restu dan do’a keduanya akan menghadirkan ridho Allah sehingga engkaupun akan bahagia dipuncak-puncak kesuksesan yang luar biasa tak terduga  nantinya... Aamiin...

Bukankah perjalanan hidup ini adalah untuk menuai barokah serta mempersiapkan kematian yang indah...? Kejar Win...Dapatkan semua itu Win...!!!

Kamis, 05 Januari 2012

Sadar akan sebuah kehilangan...

1/05/2012 W. Wardani

“Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)

Maha Besar Allah Yang menghidupkan bumi setelah matinya. Air tercurah dari langit membasahi tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Aneka benih kehidupan pun tumbuh dan berkembang. Sayangnya, justru manusia mematikan sesuatu yang sebelumnya hidup.

Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu...
Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk menatap dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana nilai kucuran keringat tergusur dengan kelincahan jari memencet tombol. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.

Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Detik, menit, jam, hingga hari, bisa berlalu begitu saja dalam gumulan gaya hidup santai.

Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita uang sebesar 86.400 rupiah setiap hari. Dan jika tidak habis, uang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan uang itu buat sesuatu yang bernilai investasi. Karena boleh jadi, kita tak punya apa-apa ketika aliran jatah itu berhenti. Dan sangat bodoh jika dihambur-hamburkan tanpa memenuhi kebutuhan yang bermanfaat.

Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86.400 detik. Jika hari berganti, berlalu pula waktu kemarin tanpa bisa mengambil waktu yang tersisa. Dan di hari yang baru, kembali Allah sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.

Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma buat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika jatah waktu dicabut. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.
Allah swt. berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah swt.).” (Al-Anbiya’: 1)

Tanpa terasa, kita kian jauh dari keteladanan Rasul dan para sahabat...
Pergaulan hidup antar manusia memunculkan tarik-menarik pengaruh. Saat itulah, tanpa terasa, terjadi pertukaran selera, gaya, kebiasaan, dan perilaku. Semakin luas cakupan pergaulan, kian besar gaya tarik menarik yang terjadi.

Masalahnya, tidak selamanya stamina seseorang berada pada posisi prima. Kadang bisa surut. Ketika itu, ia lebih berpeluang ditarik daripada menarik. Tanpa sadar, terjadi perembesan pengaruh luar pada diri seseorang. Pelan tapi pasti.

Suatu saat, orang tidak merasa berat hati melakukan perbuatan yang dulunya pernah dibenci. Dan itu bukan lantaran keterpaksaan. Tapi, karena adanya pelarutan dalam diri terhadap nilai-nilai yang bukan sekadar tidak pernah dicontohkan Rasul, bahkan dilarang. Sekali lagi, pelan tapi pasti.
Anas bin Malik pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu dahsyat di hadapan generasi setelah para sahabat Rasul. Anas mengatakan, “Sesungguhnya kamu kini telah melakukan beberapa amal perbuatan yang dalam pandanganmu remeh, sekecil rambut; padahal perbuatan itu dahulu di masa Nabi saw. kami anggap termasuk perbuatan yang merusak agama.” (Bukhari)

Tanpa terasa, kita jadi begitu asing dengan Islam...
Pelunturan terhadap nilai yang dipegang seorang hamba Allah terjadi tidak serentak. Tapi, begitu halus: sedikit demi sedikit. Pada saatnya, hamba Allah ini merasa asing dengan nilai Islam itu sendiri.

Ajaran Islam tentang ukhuwah misalnya. Kebanyakan muslim paham betul kalau orang yang beriman itu bersaudara. Saling tolong. Saling mencintai. Dan, saling memberikan pembelaan. Tapi anehnya, justru nilai-nilai itu menjadi tidak lumrah.

Semua pertolongan, perlindungan, pengorbanan kerap dinilai dengan kompensasi. Ada hak, ada kewajiban. Ada uang, ada pelayanan. Tiba-tiba seorang muslim jadi merasa wajar hidup dalam karakter individualistik. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, seorang dai merasa enggan berceramah di suatu tempat karena nilai bayarannya kecil. Sekali lagi, tak ada uang, tak ada pelayanan.
Firman Allah swt. “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali karena rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)


Tanpa terasa, kita tak lagi dekat dengan Allah swt....
Inilah sumber dari pelunturan nilai keimanan seorang hamba. Kalau orang tak lagi dekat dengan majikannya, sulit bisa diharapkan bagus dalam kerjanya. Kesungguhan kerjanya begitu melemah. Bahkan tak lagi punya nilai. Asal-asalan.

Jika ini yang terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan, ia lupa dengan sang majikan. Ketika seorang hamba melupakan Tuhannya, Allah akan membuat orang itu lupa terhadap diri orangnya sendiri. Ada krisis identitas. Orang tak lagi paham, kenapa ia hidup, dan ke arah mana langkahnya berakhir.
Maha Benar Allah dalam firman-Nya, Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19)


_repost : dakwatuna.com_ 

Senin, 28 November 2011

dirimu tidak lebih tahu....

11/28/2011 W. Wardani


Sesungguhnya Dia Yang Menciptakan diri-diri kitalah yang sangat mengetahui segala sesuatu tentang kita, tentang hati kita, tentang kebutuhan kita dan tentang apapun sungguh Dia jauh lebih mengetahui dari pada diri kita sendiri.

Ketika kita telah memiliki seratus impian dan harapan, maka itu tidak salah. Sungguh, sama sekali tidak salah karena memang kita hanya diberikan kewenangan sampai pada titik perencanaan lalu mengusahakan semaksimal mungkin.
Ketika kita telah mengusahakan segala sesuatu yang kita impikan dan harapkan namun ternyata apa yang kita usahakan itu tidak membuahkan hasil sebagaimana yang kita rencanakan maka kita pun juga tidak bersalah karena kewajiban kita setelah berusaha adalah bertawakkal kepadaNya yang memiliki kewenangan untuk menetapkan segala seuatu yang terbaik untuk hambaNya.

Mau marah...? atau menyesal...? atau putus asa...?
Silahkan...! Jika dirimu memang belum menyadari bahwa sehebat-hebatnya dirimu maka engkau tetaplah manusia yang hanya memiliki kewenangan untuk merencanakan kehidupan sesuai versi kita, mengusahakannya lalu bertawakkal akan hasilnya. Tidak bisa lebih dari itu, sampai pada masa dimana unta dpat memasuki lubang jarum pun ketetapan itu tidak akan berubah karena memang diri kita tidak jauh lebih tahu tentang apa yang kita butuhkan daripada Dia yang telah menciptakan kita. Bukankah Allah telah mengajarkan dan menyadarkan kita manusia dengan ayatnya bahwa,
Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi pula engkau menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Sungguh Allah lebih mengetahui sedangkan kamu tidak.
(QS. Albaqoroh:216)
Mau berhenti bermimpi...?
Silahkan...! Namun sejenak ingatlah bahwa mimpi dan harapan-harapan akan masa depanmu adalah bara api energi untukmu bergerak menutup masa lalu yang penuh debu dan menyambut hari esok yang masih suci. Ia adalah lecutan untukmu mempercantik pribadi menjadi lebih memesona dari hari ke hari. Ia adalah tangan-tangan kokoh yang merobek kekecewaan di penghujung hari lalu melapangkan hatimu seraya meyakinkanmu bahwa mentari akan muncul lagi dihari esok membawa harapan baru untukmu.

Mau berputus asa lalu mencincang impian yang telah terangkaikan...?
Silahkan...! Namun sejenak ambilah cermin besar dan lihatlah dirimu saat ini di cermin itu lalu tengoklah seperti apa dirimu dulu...? Jika engkau menemukan dirimu yang lebih ramah hari ini, jika engkau menemukan dirimu yang lebih dewasa hari ini, jika engkau menemukan dirimu yang lebih memesona dengan hati yang sholih hari ini, jika engkau menemui dirimu yang lebih santun dengan kerendahan hati hari ini, jika engkau menemui dirimu yang lebih membahagiakan orang-orang disekelilingmu hari ini maka masihkah engkau akan berputus asa...? padahal seandainya engkau mau membuka mata hatimu lebih jauh bahwa apa yang engkau temui hari ini adalah buah dari ikhtiar maksimalmu menggapai satu dari beberapa mimpimu untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk agama dan sebanyak-banyaknya umat melalui salah satu jalur dari profesimu. Jika saat ini engkau belum mendapati jalur itu, maka bisa jadi memang Allah lebih mengetahui bahwa itu bukanlah yang engkau butuhkan saat ini melainkan sebenarnya jalur yang lainlah yang engkau butuhkan.
Bukankah Allah lebih mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan daripada kita sendiri, maka Allah akan memenuhi semua kebutuhan kita. Ingat!, Allah akan memenuhi semua kebutuhan kita bukan semua keinginan kita. Namun sangatlah mudah bagi Allah memenuhi keinginan kita jika memang apa yang kita inginkan itu sejalan dengan apa yang kita butuhkan.
Bahkan ketika engkau tidak mencapainya saat ini maka itu bukan berarti tidak tercapai selamnya, percayalah masih ada harapan bersama terbitnya surya di esok hari.
Lalu pikirkan sekarang...? masih mau menghapus mimpi-mimpi itu...? kataku “jangan!” karena tidak ada kerugian sedikitpun ketika engkau telah bermimpi dan berharap sesuatu untuk masa depanmu, tetaplah genggam mimpimu, usahakan semampumu dan lihatlah apa yang terjadi pada dirimu sembari berbahagia menerima kejutan-kejutan yang mungkin belum pernah kau bayangkan...


_qowyyulazmi@dreamvillage_

Minggu, 26 Juni 2011

Adakah yang lebih jauh dari masa lalu...?

6/26/2011 W. Wardani

Dalam sebuah ta‘limnya, Imam Gozhali bertanya pada murid-muridnya,
“Apakah sesuatu yang keberadaannya terjauh dari diri kita...?”
 
Muridnya menjawab,
Negeri China.
 
Al gozhali menjawab, 
“ya, itu tidak salah, namun yang paling benar, yg terjauh dari diri kita adalah Masa Lalu.
 
Beliau melanjutkan,
“kita tak akan pernah bisa menuju ke tempat itu, dengan apapun kendaraanya, secanggih apapun alatnya”.

Karena hidup adlh waktu yang terus berjalan maju, maka tentukan sekarang juga, Ingin Dikenang Seperti Apakah Diri Kita...?

Selamat bermuhasabah sjenak sebelum mata terpejam mengakhiri hari ini.. Smoga Allah & seluruh makhluqnya ridho dg apa yg tlh qt perbuat unt mereka sedari pagi...

-QOWYYULAZZMI@stuffyroom23.30-

...yang telah padam bara jiwanya...

6/26/2011 W. Wardani


Tetes air hujan itu tak lagi dingin menghujamnya tbuhnya
Semilir angin pagi tak mampu lagi menyejukkannya
Terik mentari itu tak lagi menyengat kulitnya
Benar-benar telah lumpuh saraf-saraf raganya
Sungguh telah padam bara jiwanya yang sempat menggelora
Terhempas, terseret oleh detik waktu yg berlalu
Mati rasa, mayat hidup atau apalah namanya

Hei, lihat!
Dia masih berkedip
Dia masih bernafas, tersengal, tersedak dan pilu
Bulir2 kecil itu mmbasahi pipinya yg jelita seakan ia berkata

Hei, rasakan!
Jantungnya berdetak
Membisik pelan namun jelas

Rupanya masih ada harap dlm hatinya
Masih ada rindu dlm dadanya
Masih ada azzam dlm jiwanya

Dia sedang rindu
rindu pada Tuhannya
Untuk sedekat dulu kala layaknya kekasih yg diliputi cinta...

Dia berharap kembali bergerak
Untuk secekat masa lalunya layaknya buroq mengantar RosulNya...

Masih ada azzam yg akan mengantarkan ia pd saat indah di akhir waktunya...


Kamis, 04 November 2010

Sejenak Renungkan...

11/04/2010 W. Wardani

...Sejenak Renungkan...
Langkah demi langkah, hari demi hari, tahun pun berganti... 
Semakin aku dekat dengan waktu dimana akan kutinggalkan semuanya, 
semakin aku dekat dengan ruangan yang pengap dan sempit...

Apapun yang terjadi semoga semakin hari semakin besar kerinduanku 
untuk segera bertemu denganMU ya Rabbku... 
Semoga semakin dewasa dalam menjalani segala perintahNya, 
semakin kuat menjauhi laranganNya...

Ya Qowy Ya Aziz, kuatkan hamba untuk terus bertahan di jalanan yang akan mempertemukanku denganMu 
di syurga yang telah lama kunantikan... Amin

Need an Invite?

Want to attend the wedding event? Be our guest, give us a message.

Nama Email * Pesan *