Kamis, 05 Januari 2012

Sadar akan sebuah kehilangan...

1/05/2012 W. Wardani

“Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)

Maha Besar Allah Yang menghidupkan bumi setelah matinya. Air tercurah dari langit membasahi tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Aneka benih kehidupan pun tumbuh dan berkembang. Sayangnya, justru manusia mematikan sesuatu yang sebelumnya hidup.

Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu...
Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk menatap dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana nilai kucuran keringat tergusur dengan kelincahan jari memencet tombol. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.

Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Detik, menit, jam, hingga hari, bisa berlalu begitu saja dalam gumulan gaya hidup santai.

Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita uang sebesar 86.400 rupiah setiap hari. Dan jika tidak habis, uang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan uang itu buat sesuatu yang bernilai investasi. Karena boleh jadi, kita tak punya apa-apa ketika aliran jatah itu berhenti. Dan sangat bodoh jika dihambur-hamburkan tanpa memenuhi kebutuhan yang bermanfaat.

Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86.400 detik. Jika hari berganti, berlalu pula waktu kemarin tanpa bisa mengambil waktu yang tersisa. Dan di hari yang baru, kembali Allah sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.

Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma buat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika jatah waktu dicabut. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.
Allah swt. berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah swt.).” (Al-Anbiya’: 1)

Tanpa terasa, kita kian jauh dari keteladanan Rasul dan para sahabat...
Pergaulan hidup antar manusia memunculkan tarik-menarik pengaruh. Saat itulah, tanpa terasa, terjadi pertukaran selera, gaya, kebiasaan, dan perilaku. Semakin luas cakupan pergaulan, kian besar gaya tarik menarik yang terjadi.

Masalahnya, tidak selamanya stamina seseorang berada pada posisi prima. Kadang bisa surut. Ketika itu, ia lebih berpeluang ditarik daripada menarik. Tanpa sadar, terjadi perembesan pengaruh luar pada diri seseorang. Pelan tapi pasti.

Suatu saat, orang tidak merasa berat hati melakukan perbuatan yang dulunya pernah dibenci. Dan itu bukan lantaran keterpaksaan. Tapi, karena adanya pelarutan dalam diri terhadap nilai-nilai yang bukan sekadar tidak pernah dicontohkan Rasul, bahkan dilarang. Sekali lagi, pelan tapi pasti.
Anas bin Malik pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu dahsyat di hadapan generasi setelah para sahabat Rasul. Anas mengatakan, “Sesungguhnya kamu kini telah melakukan beberapa amal perbuatan yang dalam pandanganmu remeh, sekecil rambut; padahal perbuatan itu dahulu di masa Nabi saw. kami anggap termasuk perbuatan yang merusak agama.” (Bukhari)

Tanpa terasa, kita jadi begitu asing dengan Islam...
Pelunturan terhadap nilai yang dipegang seorang hamba Allah terjadi tidak serentak. Tapi, begitu halus: sedikit demi sedikit. Pada saatnya, hamba Allah ini merasa asing dengan nilai Islam itu sendiri.

Ajaran Islam tentang ukhuwah misalnya. Kebanyakan muslim paham betul kalau orang yang beriman itu bersaudara. Saling tolong. Saling mencintai. Dan, saling memberikan pembelaan. Tapi anehnya, justru nilai-nilai itu menjadi tidak lumrah.

Semua pertolongan, perlindungan, pengorbanan kerap dinilai dengan kompensasi. Ada hak, ada kewajiban. Ada uang, ada pelayanan. Tiba-tiba seorang muslim jadi merasa wajar hidup dalam karakter individualistik. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, seorang dai merasa enggan berceramah di suatu tempat karena nilai bayarannya kecil. Sekali lagi, tak ada uang, tak ada pelayanan.
Firman Allah swt. “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali karena rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)


Tanpa terasa, kita tak lagi dekat dengan Allah swt....
Inilah sumber dari pelunturan nilai keimanan seorang hamba. Kalau orang tak lagi dekat dengan majikannya, sulit bisa diharapkan bagus dalam kerjanya. Kesungguhan kerjanya begitu melemah. Bahkan tak lagi punya nilai. Asal-asalan.

Jika ini yang terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan, ia lupa dengan sang majikan. Ketika seorang hamba melupakan Tuhannya, Allah akan membuat orang itu lupa terhadap diri orangnya sendiri. Ada krisis identitas. Orang tak lagi paham, kenapa ia hidup, dan ke arah mana langkahnya berakhir.
Maha Benar Allah dalam firman-Nya, Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19)


_repost : dakwatuna.com_ 

Kamis, 22 Desember 2011

membaur tanpa melebur...

12/22/2011 W. Wardani




ketika kain penutup yg lebar ini menjadi pembatas antara komitmen kami terhadap kebenaran dengan kebebasan kalian dalam bertindak...
ketika rasa kepedulian kami yang tak pernah jenak dengan sesuatu yg terserak lagi sia-sia memisahkan kita dengan kebiasaan kalian berfoya-foya lagi semaunya dlm bekerja...
ketika ghiroh dan kesiapsiagaan kami yg telah biasa tersulut memisahkan kita dengan segala sesuatumu yg lamban lagi tertunda-tunda...

walana a'maluna walakum a'malukum....
ikhwah...

inilah kehidupan nyata, bukan lg dunia kampus yang smuanya ada dibawah kendali kita...
ikhwah...

diluar sana dunia nyata menanti kita, dakwah pasca kampus yg penuh dg dinamika...
Tersikut, tersudutkan, terhempas, terkucilkan dan semua tantangan itu menanti kita...
Siapkah kita untuk menghadapinya dg tetap menjaga kebersihan hati, kepedulian trhadap skitar dan profesionalitas...???

Jumat, 16 Desember 2011

tidak cepat namun tepat...

12/16/2011 W. Wardani


Pertolongan Allah itu tidak cepat
tapi ketahuilah bahwa pertolonganNya juga tidak pernah datang terlambat
Begitu juga Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan
namun Allah memberikan apa yang kita butuhkan

(inspired by : Mbak ida sayang @ asramaPelitaIlmu)

Selasa, 29 November 2011

maka itu bukan dosa baginya...

11/29/2011 W. Wardani




ketika kain penutup yg lebar ini menjadi pembatas antara komitmen kami terhadap kebenaran dengan kebebasan kalian dalam bertindak...
ketika rasa kepedulian kami yang tak pernah jenak dengan sesuatu yg terserak lagi sia-sia memisahkan kita dengan kebiasaan kalian berfoya-foya lagi semaunya dlm bekerja...
ketika ghiroh dan kesiapsiagaan kami yg telah biasa tersulut memisahkan kita dengan segala sesuatumu yg lamban lagi tertunda-tunda...

walana a'maluna walakum a'malukum....
ikhwah...

inilah kehidupan nyata, bukan lg dunia kampus yang smuanya ada dibawah kendali kita...
ikhwah...

diluar sana dunia nyata menanti kita, dakwah pasca kampus yg penuh dg dinamika...
Tersikut, tersudutkan, terhempas, terkucilkan dan semua tantangan itu menanti kita...
Siapkah kita untuk menghadapinya dg tetap menjaga kebersihan hati, kepedulian trhadap skitar dan profesionalitas...???

Senin, 28 November 2011

dirimu tidak lebih tahu....

11/28/2011 W. Wardani


Sesungguhnya Dia Yang Menciptakan diri-diri kitalah yang sangat mengetahui segala sesuatu tentang kita, tentang hati kita, tentang kebutuhan kita dan tentang apapun sungguh Dia jauh lebih mengetahui dari pada diri kita sendiri.

Ketika kita telah memiliki seratus impian dan harapan, maka itu tidak salah. Sungguh, sama sekali tidak salah karena memang kita hanya diberikan kewenangan sampai pada titik perencanaan lalu mengusahakan semaksimal mungkin.
Ketika kita telah mengusahakan segala sesuatu yang kita impikan dan harapkan namun ternyata apa yang kita usahakan itu tidak membuahkan hasil sebagaimana yang kita rencanakan maka kita pun juga tidak bersalah karena kewajiban kita setelah berusaha adalah bertawakkal kepadaNya yang memiliki kewenangan untuk menetapkan segala seuatu yang terbaik untuk hambaNya.

Mau marah...? atau menyesal...? atau putus asa...?
Silahkan...! Jika dirimu memang belum menyadari bahwa sehebat-hebatnya dirimu maka engkau tetaplah manusia yang hanya memiliki kewenangan untuk merencanakan kehidupan sesuai versi kita, mengusahakannya lalu bertawakkal akan hasilnya. Tidak bisa lebih dari itu, sampai pada masa dimana unta dpat memasuki lubang jarum pun ketetapan itu tidak akan berubah karena memang diri kita tidak jauh lebih tahu tentang apa yang kita butuhkan daripada Dia yang telah menciptakan kita. Bukankah Allah telah mengajarkan dan menyadarkan kita manusia dengan ayatnya bahwa,
Boleh jadi engkau membenci sesuatu padahal itu amat baik bagimu, dan boleh jadi pula engkau menyukai sesuatu padahal itu amat buruk bagimu. Sungguh Allah lebih mengetahui sedangkan kamu tidak.
(QS. Albaqoroh:216)
Mau berhenti bermimpi...?
Silahkan...! Namun sejenak ingatlah bahwa mimpi dan harapan-harapan akan masa depanmu adalah bara api energi untukmu bergerak menutup masa lalu yang penuh debu dan menyambut hari esok yang masih suci. Ia adalah lecutan untukmu mempercantik pribadi menjadi lebih memesona dari hari ke hari. Ia adalah tangan-tangan kokoh yang merobek kekecewaan di penghujung hari lalu melapangkan hatimu seraya meyakinkanmu bahwa mentari akan muncul lagi dihari esok membawa harapan baru untukmu.

Mau berputus asa lalu mencincang impian yang telah terangkaikan...?
Silahkan...! Namun sejenak ambilah cermin besar dan lihatlah dirimu saat ini di cermin itu lalu tengoklah seperti apa dirimu dulu...? Jika engkau menemukan dirimu yang lebih ramah hari ini, jika engkau menemukan dirimu yang lebih dewasa hari ini, jika engkau menemukan dirimu yang lebih memesona dengan hati yang sholih hari ini, jika engkau menemui dirimu yang lebih santun dengan kerendahan hati hari ini, jika engkau menemui dirimu yang lebih membahagiakan orang-orang disekelilingmu hari ini maka masihkah engkau akan berputus asa...? padahal seandainya engkau mau membuka mata hatimu lebih jauh bahwa apa yang engkau temui hari ini adalah buah dari ikhtiar maksimalmu menggapai satu dari beberapa mimpimu untuk menjadi pribadi yang bermanfaat untuk agama dan sebanyak-banyaknya umat melalui salah satu jalur dari profesimu. Jika saat ini engkau belum mendapati jalur itu, maka bisa jadi memang Allah lebih mengetahui bahwa itu bukanlah yang engkau butuhkan saat ini melainkan sebenarnya jalur yang lainlah yang engkau butuhkan.
Bukankah Allah lebih mengetahui segala sesuatu yang kita butuhkan daripada kita sendiri, maka Allah akan memenuhi semua kebutuhan kita. Ingat!, Allah akan memenuhi semua kebutuhan kita bukan semua keinginan kita. Namun sangatlah mudah bagi Allah memenuhi keinginan kita jika memang apa yang kita inginkan itu sejalan dengan apa yang kita butuhkan.
Bahkan ketika engkau tidak mencapainya saat ini maka itu bukan berarti tidak tercapai selamnya, percayalah masih ada harapan bersama terbitnya surya di esok hari.
Lalu pikirkan sekarang...? masih mau menghapus mimpi-mimpi itu...? kataku “jangan!” karena tidak ada kerugian sedikitpun ketika engkau telah bermimpi dan berharap sesuatu untuk masa depanmu, tetaplah genggam mimpimu, usahakan semampumu dan lihatlah apa yang terjadi pada dirimu sembari berbahagia menerima kejutan-kejutan yang mungkin belum pernah kau bayangkan...


_qowyyulazmi@dreamvillage_

Need an Invite?

Want to attend the wedding event? Be our guest, give us a message.

Nama Email * Pesan *