Senin, 13 Februari 2012
Allah yang akan menjagamu melalui hati-hati hambaNya...
2/13/2012
W. Wardani
Di sudut teras Puskesmas Gunung Putri
Di ujung kursi tunggu kau mengalihkan tatapanku
Renta tubuhmu dengan compang-camping kain seadanya
Dari balik kaca mobil tak dapat pandangku berpindah sedetik saja
Semakin lama aku kian terpana tak berdaya
Hingga mengalirlah tetes demi tetes embun di ujung mata
Di usia senja pundakmu masih saja kuat memanggul tas berisi baju-baju seadanya
Tak ada arah tak ada tujuan tak ada jemputan juga penantian
Di sinipun hanya persinggahan sesaat
Tuk sejenak melumat sebatang ubi goreng dan seteguk air kecoklatan
Semakin air mataku meleleh tak tertahankan
Dalam diam hati ku bertanya-tanya
Mana bakti putra putri yang dulu engkau susui
Atau memang engkau tinggal sebatang kara
Segera beranjak aku dari balik kaca
Berlari mencarikan untukmu sesuatu yang bermakna
Tak seberapa aku memberikan sesuatu
Terlantun serangkaian do’a tulus nan panjang dari lisanmu untukku
Lembut tangan keriputmu menggenggam jemariku seakan engkau rindu dengan buah hatimu
Dia adalah seorang wanita renta yang usianya telah senja
ibu yang mungkin hanya tinggal sebatang kara
disaat tak ada atap untuk berteduh
hatimu tak goyah dengan keyakinan bahwa Allah telah membentangkan langitNya sebagai atap
disaat tak ada dinding untuk bersandar
hatimu tetap teguh bahwa Allah telah menciptakan gunung sebagai pasak bumi
disaat tak tersedia hidangan penuh kenikmatan
hatimu kuat menggenggam janjiNya bahwa Allah lah yang memelihara setiap hamba
disaat tak ada sehelai pun alat tukar
hatimu tiada gelisah karena engkau yakin bahwa manusia tak akan menemui ajalnya hingga telah sampai rizkinya
Hanya sekejap berjumpa namun engkau ajarkan berjuta makna
Allah yang akan menjagamu melalui hati-hati hambaNya yang lembut
Allah yang senantiasa memeliharamu melalui tangan-tangan insan dermawan
Tarbiyah dan tazkiyah an nafs di kamis siang yang menantang
Subhanallah....
Sungguh betapa janjiNya adalah nyata,
Kamis, 05 Januari 2012
Sadar akan sebuah kehilangan...
1/05/2012
W. Wardani
“Orang yang pandai adalah yang senantiasa mengoreksi diri dan menyiapkan bekal kematian. Dan orang yang rendah adalah yang selalu menurutkan hawa nafsu dan berangan-angan kepada Allah.” (At-Tirmidzi)
Maha Besar Allah Yang menghidupkan bumi setelah matinya. Air tercurah dari langit membasahi tanah-tanah yang sebelumnya gersang. Aneka benih kehidupan pun tumbuh dan berkembang. Sayangnya, justru manusia mematikan sesuatu yang sebelumnya hidup.
Tanpa terasa, kita sudah begitu boros terhadap waktu...
Trend hidup saat ini memaksa siapapun untuk menatap dunia menjadi begitu mengasyikkan. Serba mudah dan mewah. Sebuah keadaan dimana nilai kucuran keringat tergusur dengan kelincahan jari memencet tombol. Dengan bahasa lain, dunia menjadi begitu menerlenakan.
Tidak heran jika gaya hidup perkotaan menggiring orang menjadi manja. Senang bersantai dan malas kerja keras. Di suasana serba mudah itulah, waktu menjadi begitu murah. Detik, menit, jam, hingga hari, bisa berlalu begitu saja dalam gumulan gaya hidup santai.
Sebagai perumpamaan, jika seseorang menyediakan kita uang sebesar 86.400 rupiah setiap hari. Dan jika tidak habis, uang itu mesti dikembalikan; pasti kita akan memanfaatkan uang itu buat sesuatu yang bernilai investasi. Karena boleh jadi, kita tak punya apa-apa ketika aliran jatah itu berhenti. Dan sangat bodoh jika dihambur-hamburkan tanpa memenuhi kebutuhan yang bermanfaat.
Begitulah waktu. Tiap hari Allah menyediakan kita tidak kurang dari 86.400 detik. Jika hari berganti, berlalu pula waktu kemarin tanpa bisa mengambil waktu yang tersisa. Dan di hari yang baru, kembali Allah sediakan jumlah waktu yang sama. Begitu seterusnya. Hingga, tak ada lagi jatah waktu yang diberikan.
Sayangnya, tidak sedikit yang gemar membelanjakan waktu cuma buat yang remeh-temeh. Dan penyesalan pun muncul ketika jatah waktu dicabut. Tanpa pemberitahuan, tanpa teguran.
Allah swt. berfirman, “Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari Allah swt.).” (Al-Anbiya’: 1)
Tanpa terasa, kita kian jauh dari keteladanan Rasul dan para sahabat...
Pergaulan hidup antar manusia memunculkan tarik-menarik pengaruh. Saat itulah, tanpa terasa, terjadi pertukaran selera, gaya, kebiasaan, dan perilaku. Semakin luas cakupan pergaulan, kian besar gaya tarik menarik yang terjadi.
Masalahnya, tidak selamanya stamina seseorang berada pada posisi prima. Kadang bisa surut. Ketika itu, ia lebih berpeluang ditarik daripada menarik. Tanpa sadar, terjadi perembesan pengaruh luar pada diri seseorang. Pelan tapi pasti.
Suatu saat, orang tidak merasa berat hati melakukan perbuatan yang dulunya pernah dibenci. Dan itu bukan lantaran keterpaksaan. Tapi, karena adanya pelarutan dalam diri terhadap nilai-nilai yang bukan sekadar tidak pernah dicontohkan Rasul, bahkan dilarang. Sekali lagi, pelan tapi pasti.
Anas bin Malik pernah menyampaikan sebuah ungkapan yang begitu dahsyat di hadapan generasi setelah para sahabat Rasul. Anas mengatakan, “Sesungguhnya kamu kini telah melakukan beberapa amal perbuatan yang dalam pandanganmu remeh, sekecil rambut; padahal perbuatan itu dahulu di masa Nabi saw. kami anggap termasuk perbuatan yang merusak agama.” (Bukhari)
Tanpa terasa, kita jadi begitu asing dengan Islam...
Pelunturan terhadap nilai yang dipegang seorang hamba Allah terjadi tidak serentak. Tapi, begitu halus: sedikit demi sedikit. Pada saatnya, hamba Allah ini merasa asing dengan nilai Islam itu sendiri.
Ajaran Islam tentang ukhuwah misalnya. Kebanyakan muslim paham betul kalau orang yang beriman itu bersaudara. Saling tolong. Saling mencintai. Dan, saling memberikan pembelaan. Tapi anehnya, justru nilai-nilai itu menjadi tidak lumrah.
Semua pertolongan, perlindungan, pengorbanan kerap dinilai dengan kompensasi. Ada hak, ada kewajiban. Ada uang, ada pelayanan. Tiba-tiba seorang muslim jadi merasa wajar hidup dalam karakter individualistik. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan, seorang dai merasa enggan berceramah di suatu tempat karena nilai bayarannya kecil. Sekali lagi, tak ada uang, tak ada pelayanan.
Firman Allah swt. “Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembela pun terhadap Kami, kecuali karena rahmat dari Tuhanmu….” (Al-Isra’: 86-87)
Tanpa terasa, kita tak lagi dekat dengan Allah swt....
Inilah sumber dari pelunturan nilai keimanan seorang hamba. Kalau orang tak lagi dekat dengan majikannya, sulit bisa diharapkan bagus dalam kerjanya. Kesungguhan kerjanya begitu melemah. Bahkan tak lagi punya nilai. Asal-asalan.
Jika ini yang terus terjadi, tidak tertutup kemungkinan, ia lupa dengan sang majikan. Ketika seorang hamba melupakan Tuhannya, Allah akan membuat orang itu lupa terhadap diri orangnya sendiri. Ada krisis identitas. Orang tak lagi paham, kenapa ia hidup, dan ke arah mana langkahnya berakhir.
Maha Benar Allah dalam firman-Nya, Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (Al-Hasyr: 19)
_repost : dakwatuna.com_
Kamis, 22 Desember 2011
membaur tanpa melebur...
12/22/2011
W. Wardani
ketika kain penutup yg lebar ini menjadi pembatas antara komitmen kami terhadap kebenaran dengan kebebasan kalian dalam bertindak...
ketika rasa kepedulian kami yang tak pernah jenak dengan sesuatu yg terserak lagi sia-sia memisahkan kita dengan kebiasaan kalian berfoya-foya lagi semaunya dlm bekerja...
ketika ghiroh dan kesiapsiagaan kami yg telah biasa tersulut memisahkan kita dengan segala sesuatumu yg lamban lagi tertunda-tunda...
ketika rasa kepedulian kami yang tak pernah jenak dengan sesuatu yg terserak lagi sia-sia memisahkan kita dengan kebiasaan kalian berfoya-foya lagi semaunya dlm bekerja...
ketika ghiroh dan kesiapsiagaan kami yg telah biasa tersulut memisahkan kita dengan segala sesuatumu yg lamban lagi tertunda-tunda...
walana a'maluna walakum a'malukum....
ikhwah...
inilah kehidupan nyata, bukan lg dunia kampus yang smuanya ada dibawah kendali kita...
ikhwah...
ikhwah...
diluar sana dunia nyata menanti kita, dakwah pasca kampus yg penuh dg dinamika...
Tersikut, tersudutkan, terhempas, terkucilkan dan semua tantangan itu menanti kita...
Siapkah kita untuk menghadapinya dg tetap menjaga kebersihan hati, kepedulian trhadap skitar dan profesionalitas...???
Tersikut, tersudutkan, terhempas, terkucilkan dan semua tantangan itu menanti kita...
Siapkah kita untuk menghadapinya dg tetap menjaga kebersihan hati, kepedulian trhadap skitar dan profesionalitas...???
Jumat, 16 Desember 2011
tidak cepat namun tepat...
12/16/2011
W. Wardani
Pertolongan Allah itu tidak cepat
tapi ketahuilah bahwa pertolonganNya juga tidak pernah datang terlambat
Begitu juga Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan
namun Allah memberikan apa yang kita butuhkan
(inspired by : Mbak ida sayang @ asramaPelitaIlmu)
Langganan:
Postingan (Atom)



