Selasa, 26 Juli 2011

Tagged Under:

Cooking is Asyik-ing...

Share


Terima kasih Allah atas waktu yang Kau berikan untukku tinggal dengan  Orange Umar.  Terima kasih untuk Mas KoKi yang sudah mengizinkan saya nunut ngiyup (red: numpang berteduh) di  RUMPUT (Rumah Putihnya). Fasilitas lengkap dan sangat nyaman. Nyaman banget untuk tidur gak bangun-bangun (ini karena saya jarang sekali melihat matahari terbit atau seberkas sinar…hehee… *Pisss! :P ), nyaman untuk leyeh-leyeh karena emang gak ada kursi blas, jadi gak ada pilihan lain selain sandarin punggung di lantai (*Ups, Pisss! :P), nyaman juga untuk semakin membulatkan pipi dan menyesakkan baju-baju saya karena sarana untuk membuat berbagai macam bahan gilingan perut tersedia lengkap. Mantab dah pokoknya!. Alhamdulillah….

Dan akhirnyaaaa, aku menemukannya, yey!. Ya, saya menemukan sebuah bakat terpendam saya yang mungkin selama ini diragukan oleh banyak orang tentang bisakah saya melakukannya…?. Ya sebuah kompetensi yang wajib dimiliki oleh setiap wanita yang menginginkan terciptanya keluarga yang bahagia. Semua itu adalah tentang MEMASAK-COOKING. Kenapa saya mengatakan ini merupakan salah satu kunci kebahagiaan keluarga…?. Tidak lain adalah karena ibu saya telah mencontohkannya dan saya merasakannya secara langsung ketika saya masih tinggal dirumah sebelum saya merantau ke Solo untuk kuliah.

How can…? Ya, coba bayangkan saja kalau seorang wanita atau lebih tepatnya seorang ibu tidak bisa memasak, wow apa kata duniaaaa…? (lebay mode:on). Kita perhatikan sehari kita makan tiga kali hitung saja harga sekali makan Rp 8.000 – Rp 10.000 di kalikan jumlah anggota keluarga misalnya 5 orang yang terdiri dari suami, istri dan tiga orang anak (Ups, curcol!. Ini jumlah keluarga impian saya…hehe..), hamper Rp 50.000, belum lagi fitroh jajan anak-anak kita yang mana hamper sepuluh penjual jajanan lewat depan rumah kita setiap harinya. Hem itu untuk sehari makan, belum lagi untuk sebulan, setahun, 3 tahun…huwaaaaa… Wah kalo begini caranya apa iya hanya makan kebutuhan kita, hemm tentu saja tidak. Kita masing-masing pasti punya yang namanya keinginan atau targetan-targetan untuk terciptanya rumah tangga yang kondusif untuk sebuah tarbiyah dalam keluarga salah satunya adalah sandang, papan dan pendidikan. Untuk meraihnya pastilah dibutuhkan yang namanya pengorbanan. Nah, itu dia salah satu caranya adalah dengan menekan pengeluaran yang memang bisa untuk diminimalisir, dia adalah pengeluaran untuk pangan atau makan (ini salah satunya).

Dengan memasak sendiri pasti jauh lebih irit, jauh lebih sehat karena kita sendiri telah menjaga dan menjamin kebersihannya serta kecukupan gizinya. Nih coba dibayangkan!, pasti indah dan romantis kalau kita bisa menyiapkan bekal buat suami setiap kali kita ia mau berangkat ke kantor, masakan special dari istri tercinta dengan bumbu cinta karenaNya akan lebih memberikan suplai energy untuk suami ketika disantapnya pas istirahat makan di siang hari. Apalagi buat anak-anak , dengan membawakannya bekal makanan ke sekolah dari masakan kita sendiri selain terjamin gizi dan kebersihannya juga bisa melatih anak-anak untuk menabung uang sakunya. Ahahahaaaay…..asik-asik dah! :P

Tapi, kata orang memasak itu gampang gampang susah. Ya benar, seperti yang saya katakan 2x gampang dan 1x susah, artinya sangat guampaaang banget bagi yang memang sudah mempunyai kesenangan atau hoby masak dan sedikit butuh perjuangan lebih bagi pemula yang baru belajar (lebih suka menggunakan istilah “butuh perjuangan lebih” daripada “susah”). Disini saya sudah mencoba dan memang benar-benar memasak itu membutuhkan ketajaman hati dan perasaan kerena memang rasa tak pernah bohong (hahaa…kayak iklan apa gitu ya… ^_^?). Ketajaman perasaan itu akan semakin terasah setelah kita mengalami sekian kali keasinan (ini bukan sebuah efek dari “pengen nikah” looh), kegosongan, keaseman, kepedesan atau apapun rasa yang terlalu berlebihan dan kekurangan. Saya sendiri sudah mengalaminya loh teman-teman. Sering banget masakan saya keasinan bahkan terkadang gak Cuma rasa yang hancur tapi juga tampilannya amburadul. Dengan terpaksa, untuk menepis kemubadziran akhirnya masuk juga tuh makanan ke perut walau harus dengan menutup hidung untuk menelannya. Ya, Itulah belajar. Berawal dari seringnya gagal rasa dan tampilan setiap tiba giliran saya memasak itu akhirnya saya menjadi suka memasak. Yeeeaah, cooking is asyik-ing.



* Fettucini alfredo & chicken katsu, masakan terupdate saya bersama Orange Umar


Terima kasih ibuku yang sudah meyakinkanku ketika banyak orang meragukan kemampuan memasakku justru engkaulah yang dengan santai mengatakan “ tenanglah, dulu ibu pas gadis juga gak bisa masak kok, tapi pas udah jadi istri jadi pinter sendiri. Asal aja dimasukin bumbu pokoknya (garam, bawang merah, bawang putih)” hehee…
Terima kasih untuk rumahnya yang menjadi laboratorium saya untuk melakukan eksperimen-eksperimen berbagai resep makanan dan mengembangkan bakat terpendam. Jazakumullahu bi ahsanul jaza…amin

Notes:
1. Untuk para gadis yang belum bisa memasak dan diragukan banyak orang, tak usah
    khawatir. Memasak itu gampang-gampang kok. Hehe…
2. Untuk wanita karir atau yang sudah memasrahkan masalah masak memasak kepada
    khadimat (pembantu), tak ada salahnya kita meluangkan waktu untuk memasak dan
    sesekali kita bangun dini hari Untuk memasakkan suami dan anak-anak tercinta karena
    memang rasanya beda looh ketika suami makan masakan pembantu dan masakan istri
    sendiri…hehe… (sok tahu deh akunya…. :P)
3. Sebagai seorang muslim, kita juga harus hati-hati dalam memasak atau lebih tepatnya
    memilih bahan makanan. Jangan sampai bahan makanan yang haram masuk ketubuh
    kita dan keluarga. Naudzubillah... Nih bisa di lihat infonya di Orange Umar"s Note

Yeaaah…that’s all… wish u’ll get something usefull from this post… thanks... :)

2 komentar:

  1. kenapa tulisan mas kokinya dicoret, yang?

    BalasHapus
  2. dan kaum adam pun sejatinya bisa masak ex : chef juna hhehe

    BalasHapus

Need an Invite?

Want to attend the wedding event? Be our guest, give us a message.

Nama Email * Pesan *